Facebook Fans

DAKWAH UNTUK KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRATMU

Serulah kepada jalan Tuhan-Mu dengan penuh Kebijaksanaan, Nasihat yang Baik, dan Diskusi yang Konstruktif. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang Siapa yang tersesat dari Jalan-Nya (Q.S.An-Nahl:125)

DAKWAH UNTUK KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRATMU

Serulah kepada jalan Tuhan-Mu dengan penuh Kebijaksanaan, Nasihat yang Baik, dan Diskusi yang Konstruktif. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang Siapa yang tersesat dari Jalan-Nya (Q.S.An-Nahl:125)

DAKWAH UNTUK KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRATMU

Serulah kepada jalan Tuhan-Mu dengan penuh Kebijaksanaan, Nasihat yang Baik, dan Diskusi yang Konstruktif. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang Siapa yang tersesat dari Jalan-Nya (Q.S.An-Nahl:125)

DAKWAH UNTUK KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRATMU

Serulah kepada jalan Tuhan-Mu dengan penuh Kebijaksanaan, Nasihat yang Baik, dan Diskusi yang Konstruktif. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang Siapa yang tersesat dari Jalan-Nya (Q.S.An-Nahl:125)

DAKWAH UNTUK KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRATMU

Serulah kepada jalan Tuhan-Mu dengan penuh Kebijaksanaan, Nasihat yang Baik, dan Diskusi yang Konstruktif. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang Siapa yang tersesat dari Jalan-Nya (Q.S.An-Nahl:125)

Rabu, 14 Desember 2011

TAHUN BARU HIJRIAH

TAHUN BARU HIJRIAH

Tahun baru hijriah sudah kita lewati pada hari ahad, 27 november 2011 tadi. Momenrunm penting bagi umat islam. Hari itu awal penanggalan tahun hijriah, 1 muharram 1433. Kenapa dikatakan tahun hijriah? Sebab, penetapan oleh khalifah Umar Bin Khattab, kata itu berdasarkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Yastrib (madinah).

Peristiwa tersebut dipandang penting karena hijrah bermakna perpindahan Nabi Muhammad bersama sebagian pengikut beliau dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum kafir Quraisy.

Hijrah juga bermakna pindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari satu tempat ke tempat lainnya yang lebih baik dengan alas an tertentu. Dengan demikian tahun hijriah, penanggalan dalam islam itu berhubungan dengan hijrah atau berkenaan tarikh islam yang dimulai dari ketika Nabi bersama sebagian pengikutnya berhijrah ke Madinah.

Pergantian tahun 1432 ke 1433, jadi wahana penmantapan pemahaman ajaran islam bagi pemeluknya. Mengambil semangat hijrah yang dilakukan Nabi, sudah sepantasnya bangkit semangat perubahan, baik sikap dan perilaku kea rah yang lebih baik lagi. Peristiwa hijrah sebagai tonggak awal tarikh islam, Hijrah secara fisik itu menjadi pusaka para Rasul sebelum Nabi terbukti menjadi babak pendahuluan bagi kebangkitan perjuangan beliau. Secara nonfisik, hijrah juga dimaknai berpindah, meninggalkan dan menjauhi diri dari dosa. Semangat demikian ingin diaktualisasikan oleh muslimin dari berbagai aspek kehidupan, termasuk mengingat betapa berat perjuangan hidup Rsaulullah pada zamannya.

Kalau begitu sudah selayaknya pula, momentum pergantian tahun ini dijadikan wahana untuk mengevaluasi berbagai tindakan selama setahun berjalan, tidak sekedar peringatan apalagi seremonial saja sesuai dengan makna hijrah secara harfiah, ingin melakukan perubahan dalam semua aspek kehidupan.

Proses penetapan penggalan dalam islam itu, semula banyak usul yang disampaikan kepada Umar Bin Khattab, misalnya ada yang menyarankan saat nabi menjadi Rasul, ada yang mengusulkan dari lahirnya rasulullah, dan ada pula yang berpendapat dari kewafatan beliau. Yang lain menyarankan, penetapan awal penganggalan tahun baru hijrah itu, momentum hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Periustiwa itu di anggap penting karena hijrah merupakan titik balik dakwah, setelah 13 tzhun mengemban misi dakwah islam di Makkah.

PERISTIWA ASYURA

10 Muharram 1433 H, dikenal dalam islam sebagai asyura(hari sepuluh). Pada hari itu, diriwayatkan banyak Nabi dan Rasul diselamatkan oleh Allah dari bahaya yang menimpa mereka.

Sebut saja Nabi Musa, di beri pertolongan dan diselamatkan dari pasukan Fir`aun menyeberangi laut merah. Asyura juga momen bagi muslimin khususnya sunni yang mempercayai beberapa peristiwa penting terjadi pada 10 Muharram. Di antara peristiwa itu, bebasnya Nabi Nuh dan umat beliau dari banjir besar ; Nabi Ibrahim selamat dari apinya Namrud ; kesembuhan Nabi Ya`kub dari kebutaan ; Nabi Isa di angkat ke surga setelah usaha Roma untuk menangkap dan menyalib beliau.

Bagi syi`ah dan sebagian sufi, asyura momen berkabung atas wafatnya Husain Bin Ali, ia terbunuh dalam pertempuran di karbala, Irak pada 61 H/680 M. pertempuran terjadi antara Bani Hasyim di pimpin oleh Husain Bin Ali melawan Bani Umayah di pimpin oleh Ibnu Ziyad.

Sebelum islam asyura menjadi peringatan, diantaranya; beberapa orang Mekkah biasanya melakukan puasa. Ketika Nabi Muhammad hijrah ke madinah, mengetahui orang Yahudi di daerah tersebut berpuasa, beliau menyatakan orang islam dapat berpuasa pada hari itu. Lain lagi dengan suku Banjar, asyura diekspresikan sebagai hari kebersamaan yang diwujudkan membuat bubur asyura; terbuat dari beras dan campurannya 41 macam bahan dari rempah-rempah, sayur mayur, umbi-umbian dan kacang-kacangan.

Berdasarkan nash, puasa yang disunahkan dalam islam antara lain enam hari pada Syawal, hari Arafah (9 dzulhijjah) bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, hari Asyura(satu hari sebelum dan sesudahnya), puasa hari-hari bidh(putih), senin dan kamis.

Puasa sunnat merupakan ibadah, dapat digunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabb(Tuhan-Nya), karena membiasakan diri berpuasa setelah Ramadhan merupakan tanda diterimanya amal perbuatan seseorang. Allah jika menerima amal seseorang, dia akan memberikan petunjuk kepadanya untuk mengerjakan amal saleh setelahnya. Puasa sunnat merupakan janji seorang muslim kepada Tuhannya, bahwa muslim ketaatan itu akan terus berlangsung.

REMAJA BERAKHLAK MULIA

REMAJA BERAKHLAK MULIA

Masa remaja adalah masa yang penuh permasalahan, emosi yang tidak stabil, sikap menentang orang tua, dan punya rasa keingin tahuan yang besar, cendrung ingin bersenang-senang. Kehidupan zaman sekarng sering kali membuat remaja terjerumus pada perilaku seks bebas dan menyimpang.

Pengawasan terhadap tingkah laku remaja cendrung sulit dilakukan karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja bisa mengendalikan perilaku sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru, dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah.

Orang tua mempunyai peranan penting dalam menentukan sifat seorang anak hingga dewasa, walaupun itu tidak bersifat mutlak. Rasulullah bersabda “setiap anak itu dilahirkan menurut fitrahnya, dan kedua orang tuanya yang akan menjadikan dia nasrani, yahudi atau majusi”. Orang tua hendaknya mendidik anaknya dengan disiplin dan kasih sayang dan bukan dimanjakan, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang produktif dan kreatif. Tetapi sifat atau akhlak, yang ditanamkan orang tua sejak kecil, bisa saja anak tumbuh menjadi remaja akan luntur dan kalah dengan pengaruh pergaulan seperti televise, internet juga telpon seluler.

Cara yang paling tepat untuk membentuk karakter remaja adalah harus dimulai dengan melakukan perubahan-perubahan sikap dan perilaku kedua orang tua. Menanamkan komitmen dan berpegang teguh pada ajaranj agama bagi kedua orang tua dan para remaja. Keluarga adalah lingkungan pertama dan mempunyai peranan penting dan pengaruh yang besar dalam pendidikan anak baik jasmani maupun rohani. Remaja juga harus di ajak untuk mengikuti jejak para ulama, serta memberi motivasi untuk selalu banyak bergaul dengan ulama dan orang-orang soleh.

Remaja di ajarkan untuk mampu mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu bernegosiasi dengan orang lain secara emosional dan menggunakan emosi sebagai alat memotivasi diri.

Semoga remaja-remaja zaman sekarang dapat menjadi remaja yang bisa membuat bangga orang tua, agama bangsa dan Negara dengan prestasi-prestasi gemilangnya, tanpa melupakan syariat Islam.

Minggu, 30 Oktober 2011

Diantara kelebihan Al-`qur`an

Alqur’an Sebagai Pembela di Akhirat

Telah bersabda Rasulullah SAW: Belajarlah kamu akan Alqur’an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya. Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, “Kenalkah kamu kepadaku?”

Maka orang yang pernah membaca Alqur’an menjawab: “Siapakah kamu?”

Berkata Alqur’an: “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan engkau juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari.”

Kemudian berkatalah orang yang pernah membaca Alqur’an itu: “Adakah kamu Alqur’an?” Alqur’an lalu mengiyakan dan menuntun orang tersebut menghadap Allah.

Orang beriman itu kemudian diberi kerajaan yang kekal di tangan kanan dan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya. Pada kedua ayah dan ibunya yang muslim, juga diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: “Dari manakah kami memperoleh ini semua, padahal kami tidak sampai ini?”

Lalu dijawab: “Kamu diberi ini semua karena anak kamu telah mempelajari Alqur’an.”

Kelebihan Alqur’an

Alqur’an memiliki tiga kelebihan yang tidak dimiliki oleh kitab suci lain. Pertama, merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca dan dihafalkan oleh manusia sejak dahulu hingga sekarang dalam bahasa aslinya. Dalam catatan rekor dunia guinness, disebutkan bahwa buku non-fiksi yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah adalah Bible. Namun, kita tahu, Bible menggunakan bahasa setempat dan telah mengalami banyak perubahan. Sedangkan Alqur’an, apa yang kita baca darinya saat ini adalah apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tanpa ada perubahan sedikitpun. Kedua, merupakan kitab suci yang mendapat perhatian sangat besar, baik oleh pemeluknya maupun oleh orang diluar mereka. Banyak ilmuwan non-Muslim yang mengakui Alqur’an, baik dari segi tata bahasanya maupun kandungannya. Ketiga, bagi seorang mukmin, membaca Alqur’an akan dapat memperkuat imannya serta kedekatannya kepada Sang Pencipta, dan membaca Alqur’an termasuk ibadah.

Sebagai seorang Muslim, sudah semestinya kita menjadikan Alqur’an sebagai pedoman hidup. Menjadikannya cermin melihat dan mengukur akhlak dan setiap aktivitas yang kita lakukan. Menjadikannya sahabat yang mengingatkan saat terlupa dan menegur saat alpa. Bila dalam satu hari kita tidak berkomunikasi dengan manusia kemudian kita merasa kesepian, maka apakah bila dalam satu hari kita tidak berkomunikasi dengan Dzat yang telah menciptakan kita dengan membaca Alqur’an, apakah kita merasa kesepian? Apabila setiap pagi kita merasa ada yang kurang tanpa membaca koran, maka apakah dalam setiap mengawali hari kita selalu merasa kurang sebelum membaca Alqur’an? Saat diri terlupa, tersesat dan lemah, maka apakah Alqur’an sudah kita jadikan sebagai pedoman hidup?

Minggu, 09 Oktober 2011

Al-Qur`an sebagai penyejuk jiwa

Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka. Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.
Padahal, Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28). Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)
Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.” Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 562). Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah; mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya.
Perhatikanlah ucapan Rabi’ bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula ‘kemampuannya’ untuk bisa mengingat Allah ta’ala. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah…
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)
Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam al-Qur’an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma’rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah…” (Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 16)
Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 21). Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 261)
Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi ‘didukung’ suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk al-Qur’an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan al-Qur’an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. Wahai saudaraku… apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39) (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 260)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More